Rabu, 27 April 2022

Rangkuman Koneksi Antar Materi Modul 3.1.a.9 "Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran"

 

 

Koneksi Antarmateri

Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran


Oleh


ELISYA SOVIA, S.Pd.,Gr

SMA NEGERI 1 PASIE RAJA

CGP-4 Kabupaten Aceh Selatan

 

Sebagai seorang guru yang dituntut bisa menjadi pemimpin pembelajaran maka di dalam realitanya mengambil keputusan didalam suatu situasi tidak terlepas dari berbagai kendala yang dihadapi. Di dalam modul-modul  Pendidikan Guru Penggerak sebelumnya, kita dapat memahami adanya keterkaitan tentang bagaimana paradigma- paradigma yang mampu mengarahkan kita menjadi pemimpin pembelajaran yang arif dan bijaksana yang mampu menguasai 9 ( Sembilan ) keterampilan kepemimpinan pendukung  pemimpin pembelajaran. Oleh karena itu, saya akan memberikan pandangan dan pendapat  saya tentang keterkaitan materi tersebut melalui pernyataan yang relevan dengan pertanyaan yang terdapat di LMS modul 3.1


Hubungan Patrap Triloka Dengan Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran.

Dasar Pemikiran Ki Hadjar Dewantara  tentang pendidikan adalah menuntun peserta didik sesuai dengan kodratnya dan kodrat zaman. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka beliau menggagas sebuah konsep yang dijadikan sebagai  prinsip dasar para guru dalam melakukan pendidikan di Taman Siswa. Terdapat tiga unsur penting dan terkenal dalam Patrap Triloka, yaitu: (1) Ing ngarsa sung tulada, yang di depan memberi teladan, (2) Ing madya mangun karsa "yang di tengah membangun kemauan, (3) Tut wuri handayani, dari belakang mendukung. Konsep ini memberikan pengertian bahwa keberadaan seorang guru hendaknya memberikan keteladanan. Jika dikaitkan dengan Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, maka seorang guru di dalam memberikan keputusan atau kebijakan hendaknya bisa memberikan teladan kepada peserta didik mapun warga sekoilah yang lainnya. Seorang guru mampu memberikan motivasi, dukungan kepada muridnya dalam upaya mengembangkan potensi yang dimilikinya.



Sebagai contoh di Era Digital yang serba menggunakan IT, maka seorang guru bisa mengambil langkah yang tepat didalam pelaksanaan PBM sehingga terjalin kolaborasi yang baik antara guru sebagai fasilitator pembelajaran. Selain itu, guru yang ideal mampu mengerti bahwa sebuah kelas terdiri dari berbagai individu dengan berbagai latar budaya, sosial dan ekonomi yang mempengaruhi kepribadiannya, maka sudah seyogyanya guru mampu menciptakan suasana pembelajaran yang bermakna dan memenuhi kebutuhan belajar peserta didik. hal ini dapat terwujud apabila Patrap Triloka mampu diterapkan oleh guru tersebut.

Hubungan Nilai-Nilai Dalam diri Seseorang dengan Prinsip dalam mengambil Keputusan

Salah satu yang mempengaruhi pengambilan keputusan pada suatu situasi atau masalah yang dihadapi adalah prinsip-prinsip atau nilai-nilai yang terdapat didalam diri seseorang. Maka dapat disimpulkan bahwa keputusan yang diambil seseorang mencerminkan bagaimana identitas nya. Melalui Diagram Gunung Es yang telah kita pelajari sebelumnya di dalam modul 2.2 kita mengetahui bahwa identitas seseorang terbentuk oleh 3 hal, yaitu, Kepercayaan, Nilai-nilai dan Pola Fikir.  Nilai- nilai dalam diri membentuk kepribadian yang apabila menghadapi suatu penyelesaian, maka seseorang cenderung melihat  dalam sudut pandang ( Subjektif) yang akhirnya berpengaruh kepada pemilihan paradigma pengambilan keputusan.

                                 


Oleh karena itu, sebagai seorang pemimpin pembelajaran yang seharusnya memberikan keteladanan kepada peserta didik dan rekan sejawat sudah seharusnya kita menanamkan nilai-nilai positif didalam diri  mampu menciptakan keputusan yang nyaman bagi semua pihak,betanggunggung jawab, mengandung nilai kebajikan serta berpihak kepada murid.

 Keterkaitan  Kegiatan Terbimbing ( Modul 3.1 ) dengan Coaching

Kegiatan terbimbing sangat erat kaitannya dengan Coaching, karena langkah-langkah Coaching diperlukan untuk mendapatkan keputusan yang bijak. Seperti contoh, langkah dalam identifikasi masalah  mampu membuat kita memetakan nilai yang bertentangan dengan benar serta memahami fakta-fakta yang relevan dengan situasi yang terjadi.. Selanjutnya penggunaan komunikasi asertif dan pertanyaan-pertanyaan reflektif diperlukan untuk membangun sinergitas serta mengarahkan kita mencapai pemecahan masalah yang seharusnya.  Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa ketercapaian suatu keputusan selain karena nilai yang terdapat di dalam diri juga mampu memahami permaslahan yang terjadi dan mencoba fokus kepada potensi yang dimiliki dalam penyelesaiannya, untuk mewujudkan hal tersebut, maka penerapan Coaching yang tepat ( sesuai dengan langkah-langkahnya) mampu membantu terwujudnya keputusan yang baik.

Hubungan Kemampuan Guru Dalam Mengelola Dan Menyadari Aspek Sosial Emosional Dengan Pengambilan Keputusan


Untuk mewujudkan 9 keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin pembelajaran, maka seseorang harus mempunyai kesadaran penuh (Mindfulness) yang mencakup kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, Keterampilan relasi  dan mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab.  Dengan adanya Mindfulness, kita mampu menyadari potensi diri, lingkungan dan masalah itu sendiri sehingga keputusan yang didapatkan nantinya mengarah kepada tujuan bersama, tanpa penilaian subjektif karena telah melibatkan pandangan orang lain serta mampu dipertanggungjawabkan kedepan nya.

 

Strategi Pengambilan Keputusan yang tepat untuk Menciptakan  Lingkungan yang Positif, Kondusif, Aman dan Nyaman.

Menjadi pemimpin pembelajaran bukanlah hal yang mudah, kita akan dihadapkan oleh berbagai sudut pandang dan kepentingan dalam memandang dan memaknai situasi yang terjadi. Keputusan yang baik bukan berarti keputusan yang mampu menyenangkan semua pihak, karena itu tidak akan mungkin terjadi, maka yang harus kita pahami , keputusan tersebut bisa dipertanggungjawabkan, mengandung nilai-nilai kebajikan universal dan berpihak kepada murid. Oleh karena itu, strategi yang dapat kita lakukan adalah

a.      Menggunakan Paradigma dalam Pengambilan keputusan yang sesuai dengan situasi atau masalah yang terjadi. Adapun Paradigma pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran adalah individu lawan masyarakat, keadilan lawan kasihan, kebenaran lawan  kesetiaan, dan jangka pendek lawan  jangka panjang.

b.      Memahami Prinsip dalam pengambilan keputusan yang bijak sesuai dengan situasi. Kepiawaian kita dalam menggunakan prinsip mengarahkan kita kepada keputusan yang tepat. Adapun Prinsip tersebut adalah  berfikir berbasis peraturan, berfikir berbasis rasa peduli dan berfikir berbasis hasil akhir

c.       Menerapkan 9 ( Sembilan) langkah pengambilan dan pengujian keputusan sebagai pemimpin pembelajaran . hal ini diperlukan untuk meninjau dan merefleksikan situasi yang dihadapi, memetakan masalah dan potensi menyelesaikannya. Adapun langkah-langkahnya adalah: (a).Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini; (b).Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini; (c) Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini;(c).Pengujian benar atau salah melalui Uji Legal, Uji Regulasi/Standar Profesional; (d).Pengujian Paradigma Benar lawan Benar untuk menentukan prinsip dan arah kebijakan yang akan diambil; (e),Melakukan Prinsip Resolusi; (f). Melakukan Investigasi Opsi Trilema; (g).Membuat Keputusan; (h).Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan


Faktor-Faktor Penyebab Sulitnya Pengambilan Keputusan Terhadap Kasus Dilema Etika di Lingkungan / Sekolah 

Dalam menyelesaikan permasalahan dilema etika tentu tidak semudah penyelesaian kasus bujukan moral dan pelanggaran aturan lainnya. Kita dituntut untuk mampu komitmen, konsisten sekaligus bersikap fleksibel terhadap perbedaan sudut pandang. Beberapa penyebab sulitnya pengambilan keputusan di sekolah saya adalah:

a.      Masih mempertahankan sifat kedaerahan ( etnosentris)

b.      Peraturan yang telah disepakati tidak dilaksanakan semestinya

c.       Kurang tegas nya kepemimpinan di sekolah

d.     Nepotisme yang masih mengakar dilingkungan sekolah.

Hal- Hal Yang  Dilakukan Guru Sebagai Pemimpin Pembelajaran Dalam Mengambil Keputusan Yang Dapat  Berpengaruh Terhadap Kehidupan dan Masa Depan Murid

Untuk mewujudkan keputusan yang berpihak kepada murid, maka seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran dapat memperhatikan beberapa hal

a.   Penggunaan Coaching sebagai langkah dalam menuntun dan menemukan potensi, memberikan motivasi, meningkatkan komitmen dan sikap tanggungjawab murid.

b.      Berpegang kepada budaya positif  yang dapat terwujud dengan adanya beberapa hal yaitu: muatan Kebutuhan dasar, Keyakinan kelas, Posisi kontrol dan Restitusi

c.       Meningkatkan Nilai dan peran sebagai guru penggerak.

 

     

Kesimpulan Modul 3.1 dam Keterkaitan Dengan Modul Sebelumnya

Modul 3.1 Pengambilan Keputusan sebagai pemimpin pembelajaran mengarah kepada kemampuan kita melihat suatu situasi dan menyelesaikannya sesuai dengan kaidah-kaidah  nilai kebajikan, tanggungjawab dan berpihak kepada murid. Penyelesaian terbaik didapat ketika kita mampu meminimalisir dampak setelah keputusan tersebut diberikan kepada orang lain, Didalam pengambilan keputusan kita harus memahami unsur-unsur, prinsip, paradigma dan langkah dalam pengujian keputusan sehingga keputusan yang dihasilkan sudah dipertimbangkan dengan matang dan berpihak kepada orang banyak

Adapun keterkaitannya dengan modul sebelumnya adalah

a.      Keterkaitan dengan Modul 1.1

Dengan memahami tujuan pendidikan, desain pemikiran Ki Hadjar Dewantara serta penerapan Patrap Triloka maka keputusan yang berpihak kepada murid dapat terwujud

b.      Keterkaitan dengan Modul 1.2 dan 1.3

Memahami nilai dan peran serta memiliki visi yang jelas mampu mengarahkan kita dalam  menerapkan peraturan, mengembangkan pembelajaran yang bermakna  sehingga dalam mengambil keputusan kita mampu selaras dengan prinsip dan paradigma nya

c.       Keterkaitan dengan Modul 1.4

Budaya positif mampu menciptakan suasana yang nyaman dan kondusif, hal ini berpengaruh kepada pengambilan keputusan yang tepat.

d.     Keterkaitan dengan Modul 2.1 dan 2.2

Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran  didalam PBM tidak terlepas dari kemampuan guru dalam memahami kebutuhan belajar peserta didik serta kemampuan dalam memahami aspek sosial emosional karena seorang guru yang memahami kebutuhan murid dan dirinya sendiri seyogyanya mampu memberikan teladan kepada murid dengan memberikan pembelajaran yang berpihak kepada mereka

e.      Keterkaitan dengan Modul 2.3

Coaching sangat diperlukan dalam memetakan permasalahan, potensi, komitmen sehingga penerapan Coaching yang tepat mampu memberikan keputusan yang tepat juga dalam suatu permasalahan, Dengan arti lain, Coaching salah satu strategi dalam melakukan 9 langkah pengujian Keputusan  sebagai pemimpin pembelajaran.

 

 

Selasa, 05 April 2022

2.3.a.9. Koneksi Antarmateri - Coaching

 

Catatan Calon Guru Penggerak

Antara Coaching, Pembelajaran Berdiferensiasi

dan Pembelajaran Sosial Emosional

oleh

Elisya Sovia,S.Pd.,Gr

SMA NEGERI 1 Pasie Raja

CGP-4 Kab. Aceh Selatan

 

A. Peran pendidik dalam Pendidikan

Pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya,begitulah yang diutarakan  oleh Bapak Ki Hadjar Dewantara dalam pandangannya tentang pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa seorang pendidik dapat dikatakan berhasil apabila mampu menuntun dan mewujudkan rasa kebahagiaan didalam pembelajaran yang dilakukannya. Untuk itu, pendidik tentu diharapkan bisa memberikan pembelajaran menyeluruh (holistik) kepada semua peserta didik yang mempunyai latar belakang berbeda. Kemampuan pendidik dalam memahami karakter peserta didik ini mampu menciptakan lingkungan belajar yang berpihak kepada murid.

Tidak jarang kita temui tulisan para pendidik, terkhususnya di dalam PTK dan Makalah bahwa permasalahan yang dialami oleh pendidik di dalam proses pembelajaran adalah minat dan motivasi belajar peserta didik yang rendah sehingga berdampak kepada rendahnya hasil belajar yang didapatkan. Hal ini seharusnya menjadi persoalan yang harus kita atasi secara bersama. Banyak tulisan telah membahas mengenai model, media, sumber hingga strategi mengajar yang mampu mendorong peserta didik aktif dalam belajar, namun semua itu kembali lagi kepada peran pendidik dalam pendidikan bahwa pendidik yang professional akan mampu merancang, melakukan pembelajaran dan evaluasi pembelajaran dengan sebaik-baiknya sehingga tujuan pendidikan itu tercapai. Didalam program Pendidikan Guru Penggerak, kita akan dipandu mewujudkan pendidikan yang berpihak kepada murid sehingga profil pelajar pancasila, belajar bermakna dan pembelajaran sepanjang hayat dapat terwujud

B. Meramu keberagaman serta mewujudkan pendidikan karakter melalui  Pembelajaran Berdiferensiasi dan Pembelajaran Sosial emosional.

Setiap peserta didik itu unik, mereka terlahir dengan berbagai kultur budaya, latar belakang keluarga, ekonomi bahkan sistem politik yang berbeda. Hal ini lumrah terjadi dimana saja, baik itu di daerah desa maupun perkotaan. Kita bisa melakukan berbagai model dan media yang kita ketahui , namun hal ini tidak cukup, karena kita tidak bisa menuntut peserta didik belajar di saat peserta didik tersebut tidak siap untuk belajar serta setiap  model/ media yang kita gunakan belum tentu mampu merangkul peserta didik kita, hal ini di perparah semenjak PJJ dan New Normal, kita temui bahwa peserta didik mengalami Disrupsi Pengetahuan , motivasi belajar serta karakter peserta didik yang rendah yang dapat dilihat dari kesadaran diri sebagai peserta didik serta tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.   Fenomena ini menjadi PR bersama yang dirasakan oleh kalangan pendidik. Di Aceh Selatan, tepatnya di SMA  N 1 Pasie Raja, Saya sebagai seorang pendidik sangat merasakan semua ini.

Sebagai seorang pendidik, kita harus mampu menyatukan keberagaman peserta didik ini untuk bisa mewujudkan pembelajaran yang asyik, nyaman dan menyenangkan. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan Pembelajaran Berdiferensiasi. Pembelajaran Berdiferensiasi adalah pembelajaran yang menitikberatkan kepada kebutuhan peserta didik sehingga mampu mewujudkan pembelajaran menyeluruh yang dapat dirasakan oleh semua peserta didik dengan berbagai karakteristik berbeda. Dengan kata lain, pembelajaran ini berupaya untuk meng-cover kesiapan belajar, minat serta profil belajar yang dimiliki oleh peserta didik dengan demikian maka peserta didik mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya.  

Pembelajaran Berdiferensiasi juga mengisyaratkan pentingnya Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) dalam penerapannya,  bahwa setiap peserta didik dengan segala potensinya mampu bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil di dalam mengerjakan tugas yang diberikan, memiliki kesadaran diri bahwa semua itu adalah suatu hal yang harus dicapai dengan berkesadaran penuh serta melibatkan kerjasama/ relasi untuk mewujudkan tujuan positif. Adapun yang menjadi Kompetensi PSE adalah kesadaran diri, pengelolaan diri, keterampilan relasi, kesadaran sosial dan Pengambilan keputusan bertanggung jawab.

Sebagai Guru  Sejarah dan Antropologi, saya menerapkan Pembelajaran Berdiferensiasi berfokus kepada Konten/ materi, Proses dan Produk. Sebagai contoh di dalam pembelajaran Antropologi mengenai Nilai Kultural Masyarakat Indonesia, adapun langkah yang saya lakukan adalah :

1.       Memetakan Karakteristik belajar Peserta didik.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengetahui karakteristik peserta didik

a.       mengamati gaya belajar yang dimiiliki, dengan demikian kita bisa mengarahkan tugas sesuai dengan gaya belajar peserta didik kita

b.      Mengamati tugas-tugas yang telah dikerjakan serta berdiskusi dengan rekan guru yang lain. Hal ini mampu memberikan gambaran mengenai minat belajar yang dimiliki

c.       Memberikan pertanyaan pemantik . Misalnya kita bertanya apakah siswa senang belajat di dalam kelas, ruang pustaka ataupun di Laboratorium, dengan demikian kita mengetahui kesiapan belajar peserta didik.

2.       Penugasan sesuai dengan Kesiapan, Minat dan Profil Belajar yang dmiliki peserta didik dan penerapan Kompetensi Sosial Emosional dalam mendukung terwujudnya tujuan yang akan dicapai

a.       Diferensiasi konten

Saya memberikan kebebasan kepada peserta didik saya memilih konten yang akan ditulis dari 7 (tujuh) unsur budaya yang dimiliki oleh suatu masyarakat. Dengan kesadaran penuh/ kesadaran diri dalam memilih konten, maka peserta menyelesaikan tugas dengan aktif, nyaman dan kreatif dikarenakan sesuai dengan profil dan minat belajar yang mereka miliki.

b.      Diferensiasi Proses

Didalam penugasan mengenai Nilai Kultural Masyarakat Indonesia, saya memanfaatkan sumber daya yanga da dilingkungan sekolah. Peserta didik bisa melalukan studi pustaka, eksplorasi melalui internet dan wawancara dengan guru-guru di sekolah yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda. Hal ini dapat terwujud dengan adanya keterampilan relasi yang dimiliki peserta didik, sehingga memudahkan proses pengerjaan tugas. Keterampilan relasi memberikan pengaruh positif bagi peserta didik untuk bisa bekerja sama, berempati, serta menumbuhkan semangat gotong royong sesama rekan atau narasumber.


 Dokumentasi Studi Pustaka, Wawancara dan Penggunaan IT

c.       Diferensiasi Produk

Setelah memilih konten dan menyelesainnya sesuai dengan proses yang mereka pilih sendiri, maka saya memberikan  penugasan sesuai dengan minat dan profil belajar yang dimiliki melalui aplikasi canva, yaitu dalam bentuk, desain poster, puisi, lagu dan video. peserta didik. Dengan demikian, kita mengetahui peserta didik itu bertanggung jawab terhadap pilihan yang telah dilakukan sehingga kompetensi PSE pengambilan keputusan bertanggung jawab sudah tercapai.

C. Coaching: Sarana Berbagi Praktik Baik Pembelajaran Berdiferensiasi dan Pembelajaran Sosial Emosional

 

                 

Praktek Coaching

 

Tut Wuri Handayani, mengisyaratkan kepada kita bahwa pendidik itu sejatinya mampu memberikan teladan, penguatan, dorongan, tidak hanya kepada peserta didik tetapi juga sesama rekan sejawat. Keberadaan guru penggerak diharapkan mampu memberikan pengaruh positif  melalui aksi nyata yang telah dilakukan dan berbagi pengalaman kepada rekan yang memang mau untuk tergerak berubah menjadi pendidik yang lebih baik kedepannya. Bersama-sama tergerak, bergerak dan menggerakkan  sehingga trasnformasi pendidikan yang diinginkan dapat terwujud.

Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan Coaching kepada rekan sejawat maupun peserta didik dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna dan menyeluruh. Dengan metode TIRTA, saya berbagi pengalaman dan membantu  kepada rekan sejawat dalam memahami kesulitan yang dirasakan selama proses pembelajaran, sama-sama berupaya menggali kelebihan dan kekurangan yang dimiliki sehingga kita bisa memetakan ide, solusi yang akan dilakukan sebagai aksi nyata untuk mengatasi permaslahan serta menimbulkan komitmen sebagai tanggung jawab melakukan perubahan yang diinginkan.

Melalui Proses Coaching, saya mendapati bahwa permasalahan pembelajaran disekolah  saya adalah  belum diterapkannya pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran yang dilakukan masih menitikberatkan kepada pemberian penugasan yang sama kepada peserta didik sehingga didapati sebagian peserta didik tidak mengerjakan tugas tersebut dengan maksimal. Alasan peserta didik tidak mengerjakan karena merasa bosan, tidak tertarik dan membosankan. Setelah melakukan evaluasi diri, rekan saya mengatakan bahwa ingin menerapkan pembelajaran yang saya terapkan di kelas, karena didalam pengamatan beliau peserta didik saya antusias didalam pembelajaran.

Berdasarkan sharing dan diskusi yang dilakukan, maka kami berupaya untuk menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di sekolah dengan memasukkan KSE yang menguatkan karakteristk peserta didik. Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi ini dilakukan oleh rekan saya dalam jenis proses dan produk, sehingga pembelajaran yang awalnya teacher oriented dan membosankan, dengan menitikberatkan kepada minat belajar dan profil belajar peserta didik dapat terwujud pembelajaran yang tidak hanya asyik tetapi mampu menimbulkan karakter  dengan kesadaran diri terhadap tugas, keterampilan relasi dalam proses pengerjaan tugas serta bertanggung jawab akan setiap kepitusan yang telah diambil karena dalam pembelajaran ini memberikan kebebasan kepada peserta didik dalam melakukan proses, produk namun tetap mengacu kepada tujuan pembelajaran dari setiap materi.

 

                     





  

    

 

 

Kamis, 10 Februari 2022

AKSI NYATA MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF

 

 

PENERAPAN BUDAYA POSITIF

DI SMA NEGERI 1 PASIE RAJA

 

OLEH

ELISYA SOVIA, S.Pd.,Gr

CGP-4 Kab. Aceh Selatan



A.       Perubahan Paradigma

 

Budaya positif merupakan nilai-nilai ataupun keyakinan yang dilakukan terus menerus sehingga menjadi kebiasaan, kebiasaan yang berpihak pada murid agar peserta didik dapat berkembang menjadi pribadi yang memiliki karakter kritis, santun dan penuh hormat serta bertanggung jawab. Budaya positif juga salah satu materi yang diajarkan dalam pendidikan guru penggerak. Materi ini sangat penting karena aksi nyata yang diterapkan langsung berhubungan dengan anak didik setiap harinya. Dengan budaya positif anak didik dapat mengembangkan potensi anak agar memiliki karakter yang kuat sebagaimana pelajar profil Pancasila.

Untuk membangun budaya yang positif, sekolah perlu menyediakan lingkungan yang positif, aman, dan nyaman agar murid-murid mampu berpikir, bertindak, dan mencipta dengan merdeka, mandiri, dan bertanggung jawab. Salah satu strategi yang perlu ditinjau ulang adalah bentuk disiplin yang dijalankan selama ini di sekolah-sekolah kita.  Paparan Dr. William Glasser dalam Control Theory, untuk meluruskan berapa miskonsepsi tentang kontrol:

                              


Didalam  teori Stimulus-Respon lawan Teori Kontrol: Pandangan tentang Dunia, Stephen R. Covey (Principle-Centered Leadership, 1991) mengatakan bahwa, “..bila kita ingin membuat kemajuan perlahan, sedikit-sedikit, ubahlah sikap atau perilaku Anda. Namun bila kita ingin memperbaiki cara-cara utama kita, maka kita perlu mengubah kerangka acuan kita. Ubahlah bagaimana Anda melihat dunia, bagaimana Anda berpikir tentang manusia, ubahlah paradigma Anda, skema pemahaman dan penjelasan aspek-aspek tertentu tentang realitas”.

             


Contoh penerapan perubahan paradigma yaitu guru berusaha memahami karakteristik yang dimiliki pesera didik yang diwujudkan dengan perbedaan strategi belajar yang dilakukan pada masing-masing kelas,

                




 

B.        Konsep Disiplin Positif dan Motivasi

Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa “dimana ada kemerdekaan, disitulah harus ada disiplin yang kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat ”self discipline” yaitu kita sendiri yang mewajibkan kita dengan sekeras-kerasnya, tetapi itu sama saja; sebab jikalau kita tidak cakap melakukan self discipline, wajiblah penguasa lain mendisiplin diri kita. Dan peraturan demikian itulah harus ada di dalam suasana yang merdeka. (Ki Hajar Dewantara, pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka, Cetakan Kelima, 2013, Halaman 470).

Pemikiran Ki Hajar ini sejalan dengan pandangan Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, 2001. Diane menyatakan bahwa arti dari kata disiplin berasal dari bahasa Latin, ‘disciplina’, yang artinya ‘belajar’. Kata ‘discipline’ juga berasal dari akar kata yang sama dengan ‘disciple’ atau murid/pengikut. Untuk menjadi seorang murid, atau pengikut, seseorang harus paham betul alasan mengapa mereka mengikuti suatu aliran atau ajaran tertentu, sehingga motivasi yang terbangun adalah motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik.

              


 Dengan kata lain, seseorang yang memiliki disiplin diri berarti mereka bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya karena mereka mendasarkan tindakan mereka pada nilai-nilai kebajikan universal. Sebagai pendidik, tujuan kita adalah menciptakan anak-anak yang memiliki disiplin diri sehingga mereka bisa berperilaku dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal dan memiliki motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik.

Tujuan dari disiplin positif adalah menanamkan motivasi yang ketiga pada muridmurid kita yaitu untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Ketika murid-murid kita memiliki motivasi tersebut, mereka telah memiliki motivasi intrinsik yang berdampak jangka panjang, motivasi yang tidak akan terpengaruh pada adanya hukuman atau hadiah. Mereka akan tetap berperilaku baik dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan karena mereka ingin menjadi orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang mereka hargai.

Sebagai contoh sikap disiplin positif yang dilakukan di SMA Negeri 1 Pasie Raja adalah menumbuhkan kesadaran peserta didik akan pentingnya kebersihan lingkungan sekolah sebagai tanggung jawab bersama melalui gotong royong yang dilakukan setiap hari sabtu.

C.       Keyakinan Kelas, Hukuman, dan Penghargaan

Keyakinan  Kelas Untuk mendukung motivasi intrinsik, kembali ke nilai-nilai/keyakinan-keyakinan  lebih menggerakkan seseorang dibandingkan mengikuti serangkaian  peraturan-peraturan.

       

       


                                  


 

Ket: Mewujudkan salah satu keyakinan kelas tentang kelas yang bersih dan nyaman

 

 

 

D.      Pemenuhan Kebutuhan Dasar

 

1.      Cinta dan kasih sayang (Kebutuhan untuk Diterima) Kebutuhan ini dan tiga kebutuhan berikutnya adalah kebutuhan psikologis. Kebutuhan untuk mencintai dan memiliki meliputi kebutuhan akan hubungan dan koneksi sosial, kebutuhan untuk memberi dan menerima kasih sayang dan kebutuhan untuk merasa menjadi bagian dari suatu kelompok. Kebutuhan ini juga meliputi keinginan untuk tetap terhubung dengan orang lain, seperti teman, keluarga, pasangan hidup, teman kerja, binatang peliharaan, dan kelompok dimana kita tergabung.

2.      Penguasaan (Kebutuhan Pengakuan atas Kemampuan) Kebutuhan ini berhubungan dengan kekuatan untuk mencapai sesuatu, menjadi kompeten, menjadi terampil, diakui atas prestasi dan keterampilan kita, didengarkan dan memiliki rasa harga diri. Kebutuhan ini meliputi keinginan untuk dianggap berharga, bisa membuat perbedaan, bisa membuat pencapaian, kompeten, diakui, dihormati. Ini meliputi self esteem, dan keinginan untuk meninggalkan pengaruh.

3.      Kebebasan (Kebutuhan Akan Pilihan) Kebutuhan untuk bebas adalah kebutuhan akan kemandirian, otonomi, memiliki pilihan dan mampu mengendalikan arah hidup seseorang. Anakanak dengan kebutuhan kebebasan yang tinggi menginginkan pilihan, mereka perlu banyak bergerak, suka mencoba-coba, tidak terlalu terpengaruh orang lain dan senang mencoba hal baru dan menarik.

4.      Kesenangan (Kebutuhan untuk merasa senang) Kebutuhan akan kesenangan adalah kebutuhan untuk mencari kesenangan, bermain, dan tertawa. Bayangkan hidup tanpa kenikmatan apa pun, betapa menyedihkan. Glasser menghubungkan kebutuhan akan kesenangan dengan belajar. Semua hewan dengan tingkat intelegensi tinggi (anjing, lumba-lumba, primata, dll) bermain. Saat mereka bermain, mereka mempelajari keterampilan hidup yang penting. Manusia tidak berbeda. Anak-anak dengan kebutuhan dasar kesenangan yang tinggi biasanya Ingin menikmati apa yang dilakukan. Mereka juga konsentrasi tinggi saat mengerjakan hal yang disenangi. Mereka suka permainan dan suka mengoleksi barang, suka bergurau, suka melucu dan juga menggemaskan, bahkan saat bertingkah laku buruk.




                 Ket : Pembelajaran Berpihak kepada kebutuhan anak

 


E.        5 POSISI KONTROL


F.         Segitiga Restitusi

Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004) Restitusi juga adalah proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996). Restitusi membantu murid menjadi lebih memiliki tujuan, disiplin positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat salah. Penekanannya bukanlah pada bagaimana berperilaku untuk menyenangkan orang lain atau menghindari ketidaknyamanan, namun tujuannya adalah menjadi orang yang menghargai nilai-nilai kebajikan yang mereka percayai. Sebelumnya kita telah belajar tentang teori kontrol bahwa pada dasarnya, kita memiliki motivasi intrinsik.     

  


 

Ketiga strategi tersebut direpresentasikan dalam 3 sisi segitiga restitusi. Langkah-langkah itu tidak harus dilakukan satu persatu. Banyak guru yang sudah menggunakannya dalam berbagai versi menurut gaya mereka masing-masing bahkan tanpa mengetahui tentang teori restitusi.

                           


1.      Menstabilkan Identitas/Stabilize the identity. Bagian dasar dari segitiga bertujuan untuk mengubah identitas anak dari orang yang gagal karena melakukan kesalahan menjadi orang yang sukses. Anak yang sedang mencari perhatian adalah anak yang sedang mengalami kegagalan

2.      Validasi Tindakan yang Salah/ Validate the Misbehavior Setiap tindakan kita dilakukan dengan suatu tujuan, yaitu memenuhi kebutuhan dasar. Kalau kita memahami kebutuhan dasar apa yang mendasari sebuah tindakan, kita akan bisa menemukan cara-cara paling efektif untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Menurut Teori Kontrol semua tindakan manusia, baik atau buruk, pasti memiliki maksud/tujuan tertentu. Seorang guru yang memahami teori kontrol pasti akan mengubah pandangannya dari teori stimulus response ke cara berpikir proaktif yang mengenali tujuan dari setiap tindakan. Kita mungkin tidak suka sikap seorang anak yang terus menerus merengek, tapi bila sikap itu mendapat perhatian kita, maka itu telah memenuhi kebutuhan anak tersebut. Kalimat-kalimat dibawah ini mungkin terdengar asing buat guru, namun bila dikatakan dengan nada tanpa menghakimi akan memvalidasi kebutuhan mereka

3.      Menanyakan Keyakinan/Seek the Belief Teori kontrol menyatakan bahwa kita pada dasarnya termotivasi secara internal. Ketika identitas sukses telah tercapai (langkah 1) dan tingkah laku yang salah telah divalidasi (langkah 2), maka anak akan siap untuk dihubungkan dengan nilai-nilai yang dia percaya, dan berpindah menjadi orang yang dia inginkan. Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini menghubungkan keyakinan anak dengan keyakinan kelas atau keluarga.

 

Berikut contoh penerapan segitiga restitusi  di SMA Negeri 1 pasie raja yang dilakukan oleh guru pengerak:

      


      


    

Langkah selanjutnya yang dapat dilakukan untuk memperkuat budaya postif adalah Bersinergi dan berkolaborasi positif dengan berbagai komunitas praktis, hal ini sangat penting dilakukan agar kekhawatir yang ditimbulkan dapat diminimalisir dan juga mencari format terbaik dalam membudayakan budaya positif di sekolah.

 

 

 



 

Keterangan Foto : Diskusi Bersama Calon Guru Penggerak tetang budaya positif.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 


AKSI NYATA MODUL 3.3 MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM BERDAMPAK PADA MURID

  Pojok Literasi Kelas Sebagai Sarana   Menumbuhkan Semangat Baca Siswa Di SMA Negeri 1 Pasie Raja Peristiwa (Facts) A.       Latar ...